Kewarganegaraan Indonesia


PARADIGMA SEBUAH NEGARA INDONESIA

Jika ada buku yang tak layak untuk di-nyinyir-i maka Nasional.Is.Me Pandji lah bukunya.

Awalnya membaca berbagai testimoni tentang buku ini di twitter ketika masih jadi e-book, aku sama sekali tak tertarik untuk membacanya. Testimoni kebanyakan terlalu berlebihan, sama seperti halnya ketika aku curhat tentang buku yang kusukai. Buku yang kusukai belum tentu orang juga suka. Maka atas dasar itulah, sampai saat buku ini diterbitkan oleh Bentang Pustaka, aku tetap lempeng sama sekali tak tertarik untuk membacanya.

Dalam pikiranku yang dangkal ini, aku membayangkan jika bukunya Pandji sedikit banyak memuat muatan PPKn pada zaman aku sekolah. Dan itu sangat tidak menarik. Cenderung membosankan. Selain itu , ada sedikit paranoid jika buku ini tak lebih buku motivasi biasa yang tak menghasilkan apa-apa, hanya sekedar semangat semu ketika membaca di awal, lalu berakhir frustasi di endingnya. Fyi, aku paling tak suka dengan buku-buku motivasi, pun juga tidak ‘ngeh’ dengan motivator gombal yang jualan kata-kata.

Semua berubah ketika negara api menyerang *shutup* ketika Pandji talkshow di Gramedia Merdeka Bandung. Aku telah menyiapkan segala sesuatunya untuk hadir disana. Tak lebih karena aku penasaran tentang bentuk rupa Pandji dan apakah selucu di tv? Dan ternyata memang benar jika Pandji itu lebih lucu, lebih centil, dan lebih menghibur daripada di Tv. Terlebih aku mendapatkan tanda tangan Pandji di buku nasional.is.me-ku.Ketika Nasional.Is.Me ada di tanganku pun, aku tak langsung membacanya. Aku masih melanjutkan membaca Honeymoon With My Brother. Baru ketika bukunya Franz Wisner itu kutamatkan, aku beralih ke Nasional.Is.Me. Mulai dari Pengantar, aku langsung tahu aku akan menyukai buku ini. Kenapa? Karena Pandji membahas tentang kata ‘anarkis’. Ya ampuuuun, sejak mengetahui arti sebenarnya dari kata anarkis pada tahun 2006 dari buku Perang-nya Rama Wirawan, lalu sebal dengan penggunaaan kata anarkis yang tidak pada tempatnya, aku akhirnya menemukannya lagi di bukunya Pandji.

Aku mengabaikan semua hal teknis yang membuat berpikir buku ini tak mendapatkan editing yang layak, hahaha. Semisal titik titik yang terlalu banyak, alinea yang terlalu banyak. Dalam bahasa Indonesia yang kupelajari di sekolahan satu alinea minimal 3 kalimat. Di buku ini satu kalimat pun jadilah alinea. Juga terlalu banyak hehehehehe. Tapi malah itu menjadikan membaca buku ini tak seperti sedang membaca. Aku merasa Pandji sedang berbicara padaku dengan menggebu-gebu, menceritakan Indonesia, menceritakan optimisme, mencairkan kepasif-an diriku terhadap negara ini. Bahkan, ketika sampai pada bab yang membahas tentang ekonomi dimana sudah tak ada lagi titik-titik, hehehe, dan alinea-alinea singkat, aku malah merindukan titik-titik, hehehe,dan alinea singkat itu.

Teman, buku ini benar-benar menginspirasi, optimisme-nya menular, memberi begitu banyak pelajaran tentang bagaimana selayaknya mencintai Indonesia. Bukan dengan menghujatnya, bukan dengan teriak-teriak menuntut pemerintah bekerja dengan benar, walau itu memang kewajiban mereka, tapi dengan menemukan semangat, menemukan alasan untuk mencintai, dan berbuat sesuatu untuk negeri ini. Karena itulah aku bilang di awal, jika buku ini tidak layak untuk di-nyinyir-i. Dan nasionalisme yang ini bukan, sama sekali bukan pelajaran PPKn yang membosankan itu! Jadi kalian wajib membacanya!

One thought on “Kewarganegaraan Indonesia

  1. Ping-balik: ARRAY MULTIDIMENSI | masizud

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s